Kompetensi Sosial Kultural Bagi ASN

Kompetensi

Mengapa kompetensi sosial kultural begitu penting bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)? Apa itu sosial kultural? apa itu perekat bangsa? bagaimana peran ASN dalam impementasi sosial kultural berdasarkan Permenpan RB No 38 Tahun 2017?

Alasannya adalah kompetensi ini menyangkut adanya perbedaan latar belakang budaya para ASN dengan masyarakat yang dilayani. Masyarakat Indonesia begitu majemuk dengan begitu banyak suku, budaya, agama/kepercayaan dan latar belakangnya. Kemajemukan masyarakat Indonesia ini diharapkan tidak menjadi kendala bagi ASN untuk memberikan pelayanannya.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memang dapat menjadi alat komunikasi untuk mengurangi perbedaan (gab) tersebut, namun faktanya, tidak semua orang menguasai dan menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, kantor pelayanan yang berada di pelosok Indonesia, ASN dimungkinkan akan dihadapkan dengan kondisi dimana ASN harus berkomunikasi dengan warga setempat dalam melaksanakan tugasnya memberikan pelayanan prima bagi masyakarat. Perbedaan harus disikapi oleh ASN dengan cara mencari tahu/ mempelajari bahasa daerah/budaya dimana ASN ditempatkan karena perbedaan tersebut dapat memunculkan perbedaan persepsi antara ASN dengan stakeholder/ masyarakat. ASN juga diwajibkan dapat menjadi perekat antar masyarakat Indonesia yang majemuk. Kompetensi Perekat Bangsa menjadi hal yang wajib di kuasai seorang ASN.

Selain kompetensi sosial kultural, penting juga seorang pegawai baik ASN maupun Non-ASN kuasai, yaitu Kompetensi Manajerial. Khusus untuk Kompetensi manajerial admin buat ulasan tersendiri, atau dapat diakses pada link berikuti ini.

Baca Juga:  8 Jenis Kompetensi Manajerial Bagi Seorang Pemimpin Perusahaan

Kenapa harus ASN?

ASN menjadi representatif dari pemerintah, dimana tindakan pemerintah tidak secara langsung dapat dilihat maupun dirasakan oleh masyarakat sehingga peran ASN adalah menjadi inisiasi sebagai perekat bangsa yang secara langsung berhadapan dengan masyarakat, hal tersebut menjadi misi mulia bagi ASN selain memberikan pelayanan publik juga untuk menjaga toleransi dan kemajemukan masyakarat Indonesia melalui tindakannya.

Perekat Bangsa

Apa maksud dari ASN sebagai perekat bangsa? Perekat Bangsa menurut Permenpan-RB 38 Tahun 2017 adalah

  • Kemampuan dalam mempromosikan sikap toleransi, keterbukaan , peka terhadap perbedaan individu/ kelompok masyarakat.
  • Mampu menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam mempersatukan masyarakat dan membangun hubungan sosial psikologis dengan masyarakat di tengah kemajemukan Indonesia sehingga menciptakan kelekatan yang kuat antara ASN dan para pemangku kepentingan serta diantara para pemangku kepentingan itu sendiri.
  • Menjaga, mengembangkan, dan mewujudkan rasa persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Indonesia.

Kompetensi Perekat Bangsa

Kompetensi Perekat Bangsa pada ketentuan nasional Permenpa-RB Nomor 38 tahun 2017 yaitu

Level 1 : Peka memahami dan menerima kemajemukan

Indikator Perilaku:

  1. Mampu memahami, menerima, peka terhadap perbedaan individu/ kelompok masyarakat.

Contoh implementasi dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan kita sebagai contoh sebagai berikut :

  • Menunda cuti untuk memberi kesempatan bagi rekan lain untuk hari raya keagamaan
  • Menerima rekan kerja sebagai tim meskipun berbeda latar belakang
  • Peka terhadap candaan yang dapat menyinggung orang tertentu atau rekan kerja.

2. Terbuka, ingin belajar tentang perbedaan/ kemajemukan masyarakat.

Contoh implementasi dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan kita sebagai contoh sebagai berikut :

  • Mempelajari bahasa budaya daerah tertentu sesuai dengan penempatan kerjanya.
  • Mengenalkan diri di tempat kantor baru meskipun dengan latar belakang rekan baru yang berbeda.
Baca Juga:  Pelayanan Publik Bagian dari Kompetensi Manajerial bagi PNS ASN

3. Mampu bekerja bersama dengan individu yang berbeda latar belakang dengannya.

Contoh implementasi dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan kita sebagai contoh sebagai berikut :

  • Bekerjasama dalam satu tim yang berasal dari daerah lainnya, dengan bahasa atau gaya bicara yang berbeda, karakter atau kebiasaan yang berbeda.
  • Menawarkan diri untuk bergantian bekerja bagi rekan kerja yang sedang menajalankan ibadah
  • Menerima pendapat orang lain demi kebaikan bersama.

Level 2 : Aktif mengembangkan sikap saling menghargai, menekankan persamaan dan persatuan

Indikator Perilaku :

  1. Menampilkan sikap dan perilaku yang peduli akan nilai-nilai keberagaman dan menghargai perbedaan;
  2. Membanguan hubungan baik antar individu dalam organisasi, mitra kerja, pemangku kepentingan;
  3. Bersikap tenang, mampu mengendalikan emosi, kemarahan dan frustasi dalam menghadapi pertentangan yang ditimbulkan oleh perbedaan latar belakang, agama/ kepercayaan, suku, jender, sosial ekonomi, preferensi politik di lingkungan unit kerjanya.

Level 3 : Mempromosikan, mengembangkan sikap toleransi dan persatuan

Indikator Perilaku :

  1. Mempromosikan sikap menghargai perbedaan di antara orang-orang yang mendorong toleransi dan keterbukaan.
  2. Melakukan pemetaan sosial di masyarakat sehigga dapat memberikan respon yang sesuai dengan budaya yang berlaku. Mengidentifikasi potensi kesalah-pahaman yang diakibatkan adanya keragaman budaya yang ada.
  3. Menjadi mediator untuk menyelesaikan konflik atau mengurangi dampak negative dati konflik atau potensi konflik.

Level 4 : Mendayagunakan perbedaan secara konstruktif dan kreatif untuk meningkatkan efektifitas organisasi.

Indikator Perilaku:

  1. Menginisiasi dan merepresentasikan pemerintah di lingkungan kerja dan masyarakat untuk senantiasa menjada persatuan dan kesatuan dalam keberagaman dan menerima segala bentuk perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat;
  2. Mampu mendayagunakan perbedaan latar belakang, agama/kepercayaan, suku, jender, sosial ekonomi, preferensi politik untuk mecapai kelancaran pencapaian tujuan organisasi.
  3. Mampu membuat program yang mengakomodasi perbedaan latar belakang, agam/kepercayaan, suku, jender, sosial ekonomi, preferensi politik.
Baca Juga:  Serangan DarkSide Ransomware, Pengertian dan Pencegahan

Level 5 : Wakil pemerintah untuk membangun hubungan sosial psikologis

Indikator Perilaku:

  1. Menjadi wakil pemerintah yang mampu membangun hubungan sosial psikologis dengan masyarakat sehingga menciptakan kelekatan yang kuat antara ASN dan para pemangku kepentingan serta diantara para pemanku kepentingan itu sendiri.
  2. Mampu mengkomunikasikan dampat risiko yang terindetifikasi dan merekomendasikan tindakan korektif berdasarkan perimbangan perbedaan latar belakang, agama/ kepercayaan, suku, jender, sosial ekonomi, preferensi politik untuk membangun hubungan jangka panjang
  3. Mampu membuat kebijakan yang mengakomodasi perbedaan latar belakang, agama/ kepercayaan, suku, jender, sosial ekonomi, preferensi politik yang berdampak positif secara nasional.

Kompetensi sosial kultural seyogyanya tidak hanya di tuntut hanya bagi ASN saja, namun juga bagi seluruh masyarakat atau warga Indonesia. Masyarakat Indonesia mempunyai kewajiban untuk berperan dalam menjaga kedamaian dan kesejahteraan persatuan Indonesia di dalam kemajemukan masyarakat Indonesia.

Berikut link untuk mengunduh peraturan Permenpan RB No 38 Tahun 2017 tentang Standar Kompetensi Jabatan Aparatur Sipil Negara.

Selain itu perlu juga mengenal kompetensi manajerial bagi seorang pewagai. Untuk artikel kompetensi manajerial dapat diakses pada halaman berikut ini.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*