Basic Networking Routing Protocol

Bagi Anda yang tertarik untuk terjun lebih dalam ke ilmu jaringan komputer, routing protocol adalah ilmu dasar yang akan sering ditemui dan wajib dipahami. Untuk memahami apa itu routing protocol, kita bisa melakukan pendekatan arti per kata. Protokol dapat diartikan sebagai “aturan”, sedangkan routing berasal dari kata route yang artinya adalah rute. Sehingga routing protocol dapat dipahami sebagai aturan untuk menentukan rute. Analogi lebih mudah lagi misalnya kita akan melakukan perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta. Tentunya terdapat beberapa rute alternatif yang tersedia. Pemilihan rute tersebut pun tidak sembarangan, ada beberapa kriteria atau rule untuk pemilihan rute, misal melewati jarak yang terdekat atau melewati jalan yang paling bebas hambatan. Hal yang sama dilakukan oleh routing protocol, terdapat aturan untuk pemilihan rute dari source ke destination.

Klasifikasi Routing Protocol

Secara umum, terdapat dua klasifikasi routing protocol, yaitu static dan dynamic. Static routing cukup mudah dimengerti, kita cukup mendefinisikan ke mana tujuan akhir (destination), serta lewat mana (exit point) supaya bisa sampai ke tujuan. Akan tetapi, konfigurasi static routing ini dilakukan secara manual. Bayangkan saja apabila kita mempunyai ratusan tujuan yang berbeda dan kita harus mendefinisikan satu per satu. Belum lagi apabila terjadi perubahan pada jaringan, misalnya salah satu perangkat mengalami gangguan atau down, kita perlu melakukan modifikasi static routing. Tentunya beban pekerjaan network administrator akan menjadi berat. Oleh karena itu munculah terminologi dynamic routing.

Sementara komputasi untuk dynamic routing seluruhnya dilakukan secara otomatis berdasarkan algoritma masing-masing tipe routing protocol. Masih terdapat klasifikasi atau pembagian dari dynamic routing protocol, seperti yang tertera pada bagan berikut: (Source: Cisco Networking Academy, 2013).

Klasifikasi dynamic routing protocol

Interior Gateway Protocols (IGP)

Untuk awal pengenalan, akan dibahas spesifik mengenai Interior Gateway Protocols (IGP). Sesuai dengan namanya yaitu interior, protocol yang masuk dalam kategori ini lebih ditujukan untuk komunikasi di dalam satu Autonomous System atau di dalam satu entitas administratif. Satu hal penting dalam memahami routing protocol adalah istilah yang dinamakan dengan metrik. Metrik merupakan nilai acuan untuk pemilihan rute. Semakin kecil metrik, artinya rute tersebut akan semakin dipilih atau preferred. Masing-masing routing protocol mempunyai metrik yang berbeda, yang akan digunakan untuk pemilihan rute terbaik atau best path.

Distance Vector Routing

Kategori IGP routing yang pertama adalah Distance Vector Routing Protocols. Kategori ini menggunakan distance atau jarak dan vector atau arah dalam pemilihan rutenya. Protokol dalam kategori ini tidak mempunyai peta yang lengkap terkait dengan keseluruhan topologi jaringan. Satu node atau device hanya akan mempunyai informasi tentang device yang terkoneksi langsung dengannya. Terdapat dua routing protocol yang masuk ke dalam kategori distance vector:

1. RIP (Routing Information Protocol)

Protokol ini termasuk salah satu protokol yang algoritmanya simpel. RIPv2 dikembangkan untuk mengakomodasi kebutuhan subnet yang lebih kecil. Metrik yang digunakan untuk pemilihan best path adalah hop count, artinya RIP akan menghitung jumlah node yang dilewati dari source ke destination. Namun sayangnya maksimum hop yang didukung oleh protokol RIP ini hanya 15, sehingga menjadi tidak scalable untuk jaringan yang lebih besar

Baca Juga:  Kelemahan Jaringan Wifi

2. EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol)

Protokol ini merupaka proprietary atau dikembangkan sendiri oleh Cisco. Protokol ini mendukung kebutuhan subnet yang lebih kecil atau Variable Length Subnet Mask (VLSM) serta IPv6. Untuk menghitung metrik, EIGRP menghitung beberapa parameter seperti bandwidth, delay, load, dan reliability.  EIGRP juga mempunyai algoritma yang dinamakan DUAL, dimana memiliki kemampuan untuk menghitung backup path di awal untuk mengantisipasi apabila best path tidak available.

Link State Routing Protocol

Kategori IGP routing yang selanjutnya adalah Link State Routing Protocol. Sesuai dengan namanya, protokol ini mengandalkan informasi yang diterima dari neighbor link untuk kemudian dikumpulkan ke dalam database yang disebut dengan Link State Database (LSDB). Dengan adanya LSDB ini, routing protocol mempunyai peta yang lengkap terkait keseluruhan topologi jaringan. Semua protokol yang termasuk dalam kategori Link State mendukung VLSM, IPv6, serta memiliki standar RFC yang artinya applicable untuk seluruh vendor jaringan (Cisco, Juniper, Huawei, Alcatel, dll). Terdapat dua routing protocol yang masuk ke dalam kategori Link State:

1. OSPF (Open Shortest Path First)

Protokol ini dikenal luas dan termasuk yang sering digunakan di service provider. Protokol ini menggunakan algoritma SPF atau Shortest Path First untuk menghitung rute terbaiknya. Metrik yang digunakan adalah cost, dimana cost tersebut diturunkan dari bandwidth link. Semakin besar bandwidth link, maka semakin kecil metrik yang didapat, dan menandakan rute yang melalui link tersebut akan lebih dipilih. OSPF mengenal konsep area, untuk tetap mendukung skalabilitas jaringan yang berkembang, namun tetap mengedepankan kecepatan convergence serta performa resource router.

2. ISIS (Intermediate System to Intermediate System)

Sama seperti OSPF, protokol ini juga banyak digunakan oleh service provider. Berbeda dengan OSPF yang mengenal konsep area, ISIS menggunakan konsep bernama level. Terdapat beberapa level di dalam ISIS, yaitu Level 1 (L1), Level 2 (L2), dan Level 1-2 (L1L2). Perbedaan level ini juga mengatur bagaimana komunikasi untuk mendukung skalabilitas dari jaringan yang berkembang menjadi lebih besar dan kompleks

Baca Juga:  Aplikasi Rapat Online Terbaik

Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca untuk lebih memahami konsep routing protocol secara general. Bagi pembaca yang tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai salah satu routing protocol bisa meninggalkan saran atau komentar, akan menjadi masukan bagi kami untuk konten berikutnya.

Baca juga: Kelemahan Jaringan Wifi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*